Kekuatan Silaturahim 2 Anak Presiden Beri Contoh Yang Baik



REPUBLIKPEMUDA.COM | Kedua anak bangsa yakni Gibran Rakabuming Raka, anak Presiden RI ke 7 dan Agus Harimurti Yudhoyono anak Presiden RI ke 6 terlihat seyum lepas saat berjabat tangan, sesaat keduanya bertemu disela-sela agenda silaturahim kenegaraan di Istana Merdeka. Inilah suguhan adegan ramah ditengah perbedaan pandangan pertunjukan bagi generasi muda. Mungkin ini hasil reproduksi politik Pancasila kekinian.

Seperti yang diketahui, AHY panggilan akrabnya, merupakan Direktur The Yudhoyono Institute melakukan lawatan ke Presiden Joko Widodo ke Istana. Dalam kegiatan ini ia memperkenalkan lembaga baru yang dipimpin. Ya, lembaga yang di klaim untuk ruang think tank. Kedatangan AHY ke Istana untuk menemui, dan ingin meminta restu dan wejangan dari Jokowi terkait peresmian lembaga yang dipimpinnya (Kompas.com).

“Tentunya saya direstui, dalam arti Beliau memberikan semangat dan berharap melalui The Yudhoyono Institute, ada pemikiran-pemikiran yang baik sekaligus juga memotivasi generasi muda, sekaligus juga menyiapkan kader-kader pemimpin di masa mendatang," ujar Agus.

Kegiatan ini menarik tentu tidak lepas dari perhatian publik. Banyak yang melakukan tafsiran-tafairan positif dari masyarakat, terlebih para netizen. Pasalnya tentu kita masih ingat dan sudah menjadi rahasia umum, orang tua kedua anak bangsa ini mempunyai perbedaan pandangan politik. Terlebih setelah adanya momentum pemilihan Kepala Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2017 lalu, yang sangat terlihat Jelas adanya jurang perbedaan.

Tentu adanya Pemilihan Gubernur DKI Jakarta kemarin berdampak serius pada hubungan politik antara Presiden RI ke 6 dan ke 7 ini. Bahkan keduanya saling intrik, saling klaim atas karya kerja selama menjabat Presiden. Tidak hanya berhenti disitu. Para pengikut keduanya terkesan memperkeruh atas persetruan tersebut. Melalui media sosial saling memuji dan mengejek presiden mana yg lebih baik. Sungguh suguhan politik yang menurut kalangan anak muda akan berdampak kurang bagus.

Namun hari ini (setelah perteuan) merubah asumsi publik, setelah adanya pertemuan AHY dengan Presiden Jokowi yang didampingi Mas Gibran pada kamis 10/8/2017 kemarin. Mereka melakukan pertemuan dengan kehangatan dan keakraban saat Gibran Rakabuming dan Agus Harimurti Yudhoyono memberikan keterangan pers, setelah keduanya bertemu di Istana Kepresidenan. Kedua anak sulung presiden saling lempar Pujian.

Dalam ketereangan di depan para media keduanya menampilkan keakraban tampa batas. Gibran bercerita demi pertemuan ini, rela masak sendiri Gudeg Bubur Lemu salah satu menu makanan yang akan disajikan kepada AHY. Tidak hanya itu, pengusahan katering ini juga berharap kepada AHY sebagai tokoh muda harus tampil berkarya untuk bangsa.

"Saya masakin Gudeg Bubur Lemu. Gudeg tapi makannya pakai bubur. Suka enggak, Mas?" tanya Gibran kepada Agus.

Begitu juga AHY Tidak mau kalah memuji. Dalam sesi setelah jamuan tersebut memuji makanan yang disajikan Mas Gibran yang katanya sangat enak,  AHY pun mendoakan usaha yang dilakoni Gibran sukses. Suasana semakin cair saat ada timpalan dari Gibran. Lebih dari itu, dia berharap pertemuan ini terus berkelanjutan.

Terlepas dari penilaian lain pasca acara silaturahim tersebut. Momentun seperti ini seharusnya dijadikan pelajaran bagi seluruh elemen masyarakat. Terutama para generasi muda. Bahwa perbedaan pandangan politik itu biasa selama itu membangun. Namun tidaklah harus memutuskan silaturahim dalam hal lain.

Adaanya keakraban Mas Gibran dan AHY patut kita renungkan dan diambil pelajaran buat publik. Menurut saya tindakan ini adalah tindakan produktif dalan hal pendidikan sosial-politik bagi generasi muda. mereka bisa dikatakan anak muda yang pandai Move On.

Saya sepakat apa yang disampaikan oleh AHY dalam keterangan pers setelah pertemuan tersebut mengatakan, semua putra bangsa harus bergandengan tangan, kemudian dalam suasana kebersamaan harus menjadi kontribusi nyata bagi pembbangunan bangsa.

Persoalan kontribusi dari generasi baru merupakan keniscayaan yang harus diterima oleh bangsa. Karena ibu pertiwi semenjak di plokamirkannya Kemerdekaan, berharap kepada pemuda agar memajukan negara ini. Tampa memandang siapa yang memimpin. Bukan sebaliknya. Kalau tidak Negara ini akan menjadi negara yang tertinggal.

Ingat negara ini sebentar lagi menghadapi tahun emas. Tepatnya tahun 2045 tepat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 100 akan menerima Bonus demografi. Dimana stok generasi produktiif melimpah. Perlu ada persiapan serius dari seluruh elemen bangsa. Mumpung masih punya waktu 28 tahun lagi.

Perlu saya ingatkan kembali, sebenarnya Indonesia beruntung mempunyai dasar Falsafah Pancasila. Didalamnya terdapat butir-butir tuntunan untuk mewujudkan negara besar dan maju. Bangsa maju dan berkembang adalah bangsa yang mengedepankan kesejahteraan dan keadilan bagi warganya.

Kita simak Pancasila poin Ke-2. yakni, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Artinya apa, para pendiri bangsa tahu untuk mmenjadikan negara damai dan sejahtera butuh orang yang cerdas, adil dan berkeadaban. Butuh generasi muda pandai yang santun dan bijak.


Penulis 
Sodiqul Anwar 
Mahasiswa Pascasarjana STAINU. 
Koordinator Nasional Sarekap Muda Produktif dan Inovatif. 
Pembina Lembaga MPI (Moeda Patria Inisiatif Blitar). 
Share on Google Plus

About republikpemuda

Republikpemud adalah ruang opini, ide, gagasan, serta karya tulis pemuda seluruh Indonesia, kami mengundang siappun tanpa memandang usia untuk mengirimkan karyanya tentang atau bertemakan kepemudaan.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar