Apolitis dan Gap Generasi



REPUBLIKPEMUDA.COM | Ketika politik semakin ingar-bingar dan hanya berorientasi kekuasaan dan kepentingan elite-elitenya, negara pun seolah tidak memedulikan pengembangan anak-anak mudanya lagi. Padahal di negara-negara maju, pemberdayaan anak muda adalah fokus dalam setiap pemerintahannya karena terkait dengan keberlanjutan bangsa dan negara itu sendiri. Pemerintah diharapkan bisa membenahi sistematika pembangunan jiwa dan raga kaum mudanya. Hal itu menyangkut kebijakan dari hulu sampai hilir.

Ada tanda-tanda yang jelas bahwa generasi muda saat ini kurang memperhatikan berita yang berkaitan dengan politik, baik itu dari televisi, internet, atau surat kabar. Bahkan cenderung bertahan seperti itu ketika mereka semakin tumbuh dewasa. Boleh jadi kita bisa menampik anggapan tersebut ketika banyak anak muda yang turut menyuarakan aspirasi politik melalui internet. Tapi apakah ini menandakan seolah mereka 'melek politik' atau sekadar penggembira momen-momen politik saja? Dengan munculnya internet, pengenalan berbagai teknologi ponsel dan perluasan penyiaran komersial, jumlah informasi dan hiburan telah berkembang pesat. Hal ini pada gilirannya telah mempengaruhi cara anak-anak muda untuk meraih informasi. Ketika mereka mengakses suatu informasi, katakanlah bidang politik, ternyata tidak berhasil membuat mereka mau menggali lebih mendalam. Mungkin hanya sekadar tahu saja. Informasi-informasi itu tidak memiliki arti bagi kehidupan mereka.

Di antara anak-anak muda saat ini, tidak ada lagi ada keterkaitan antara informasi, identitas sipil, dan keterlibatan sosial. Bagi mereka, menjadi warga negara dan melek politik tidak membutuhkan jasa media-media massa. Mungkin berita seputar politik dalam negeri, politik internasional, budaya dan ekonomi dipandang menarik oleh mereka. Namun jika mereka menunjukkan kepedulian terhadap berita, hanya pada headlines-nya saja. Sedangkan produk olah jurnalisme sebagian besar dirasakan tidak relevan dengan kehidupan mereka. Media massa semakin dipandang berwajah suram. Karena itu, anak-anak muda cenderung kurang terlibat dalam isu-isu politik global dan domestik.

Lebih lanjut, berita politik dipandang sebagai salah satu genre dari banyaknya pemberitaan. Selain itu, anak-anak muda tidak menarik garis tegas antara mana yang hiburan dan informasi yang mengembangkan kesadaran politik mereka. Sebaliknya, terkadang mereka mengumpulkan sendiri "remah-remah" informasi dari media, lalu menciptakan gaya dan ekspresi politik sendiri.

Di sinilah kita sering terjebak dalam sebuah labirin pemahaman. Kita pikir bahwa politik hanyalah serangkaian proses sidang, pidato, dan lobi yang dilakukan dengan menjemukan oleh para aktor-aktor politik yang membuat kita ingin cepat-cepat mengganti saluran TV. Kita pikir proses politik tak ada pengaruh langsung pada kehidupan kita, dan sebaliknya, kita tak punya kuasa untuk mempengaruhi proses politik. Kita menerima bahwa segala yang terjadi di sekeliling kita adalah sebuah guratan nasib yang tak bisa diubah. Apakah ini pertanda kegagalan regenerasi politik? Mengingat bahwa di tingkat kepemimpinan nasional dan petinggi partai politik pun masih ditempati muka lama yang telah mengenyam asam garam perpolitikan di Indonesia. Anak muda tak lebih dari sekedar pengikut yang manut digeret ke sana ke mari seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.




Penulis 
El-Kaziem
Yayasan Bhinneka Nusantara.
Pernah Kuliah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Ciputat
Penulis Novel Evenaar : 

Sang Utusan (2014) dan 1 Akal 9 Hati (2016).
Biografi Lengkap
Share on Google Plus

About republikpemuda

Republikpemud adalah ruang opini, ide, gagasan, serta karya tulis pemuda seluruh Indonesia, kami mengundang siappun tanpa memandang usia untuk mengirimkan karyanya tentang atau bertemakan kepemudaan.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar